Telp : +62370633077

LAGI, DUA SANTRI MANPK-MAN 2 MATARAM JUARA NASIONAL

khamim.jpg

Gambar- Dua santri MANPK MAN 2 Mataram yakni Khairul Hamim Juara 1 Esai Tingkat Nasional (Atas) dan Zul Rizal Fathoni (bawah) Juara 1 Khitobah atau Pidato Bahasa Arab Tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh Ponpes Terpadu Al-Kahfi Bogor Jawa Barat.

Mataram- Tanggal 5 Agustus yang lalu berita tentang Khairul Hamim; Santri MANPK MAN 2 Mataram lolos ke Grand Final Duta Harmoni 2021 dan berita Zul Rijal Fathoni yang borong Juara Nasional medio 16 Agustus lalu menjadi perbincangan cukup viral pagi ini. Sembari ditemani secangkir kopi panas, mencoba membuka kembali cerita tentang dua santri ini.

Hamim yang multitalenta dengan deretan prestasi dan memiliki segudang pengalaman mengikuti organisasi ini kembali meraih Juara 1 Lomba Esai Tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh Pondok Pesantren Terpadu Al-Kahfi Bogor Provinsi Jawa Barat. Demikian pula dengan Fathoni yang jago public speaking. Deretan prestasi Toni sebelumnya yakni juara 1 tingkat Nasional dalam bidang Ceramah dan lomba-lomba Pidato Bahasa Arab. Prestasi lainnya yakni: (1) Juara 1 Lomba Pidato Bahasa Arab di Universitas Muhammadiyah Magelang, (2) Juara 1 Lomba Pidato Bahasa Arab di Tadangate Institute, Mamuju- Sulawesi Selatan, Juara 1 Lomba Ceramah di SMAN 1 Mataram, dan berbagai kejuaraan Nasional dan Provinsi lainnya.

Kali ini Toni kembali meraih Juara 1 Pidato Bahasa Arab tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh Pondok Pesantren Terpadu Al-Kahfi Bogor Provinsi Jawa Barat. Dengan demikian, ada dua santri MANPK MAN 2 Mataram yang meraih Juara 1 pada even ini. Hamim dan Toni. Duet maut ini memang tidak bisa diremehkan. Meski Toni mengaku, kami tidak janjian daftar lomba, kami hanya saling tahu ketika sama-sama diumumkan menjadi juara. Sembari menyunggingkan senyum khas. yang manis dan ramah. Tentu ini menambah nilai positif dan menambah pundi-pundi pengetahuan Hamim dan Toni sebagai santri yang tidak boleh dipandang sebelah mata. Memiliki semangat dan selalu berwibawa, membuat teman-temannya menjadi sungkan padanya. Masih teringat ketika Hamim mengatakan senang mengikuti rentetan lomba dan organisasi agar dapat dunia akherat. Sama sekali tidak merepotkan, ujarnya. Lain Hamim, lain pula Toni. Toni pernah berkata kalau dakwah itu bisa dilakukan dengan berbagai cara, tentu dengan kapasitas dan kemampuan masing-masing orang. Sehingga ia berpikir, meski tidak juara sekali pun setidaknya ia sudah menjalankan dakwah dengan batas kemampuan yang dimilikinya. Namun, Allah mentakdirkan saya sebagai Juara 1, tentu saja saya harus mensyukurinya. Lomba ini memperebutkan hadiah spektakuler sejumlah seratus juta rupiah (Rp. 100.000.000) dari total hadiah yang disediakan oleh panitia. Ada 12 mata lomba yang dipertandingkan, salah satunya adalah lomba esai untuk MA/SMA sederajat se-Indonesia. Lomba lainnya yakni: desain poster, speech, business plan, cover jingle, fotografi, duet story-telling, khitobah, cipta baca puisi, MTQ, knowledge competition dan short video. Khusus Lomba Esai dan Pidato Bahasa Arab yang digelar panitia hanya untuk perorangan. Pidato Toni tentang Permasalahan Dampak-dampak Ghozwatul Fikri dan Langkah-langkah untuk Menanganinya, yakni semodel perang pemikiran atau strategi Orang Barat untuk menghancurkan Islam melalui akal sehat. Toni mengaku lumayan berat mempersiapkan naskah pidatonya. Kurang lebih dua minggu, karena ia harus menyesuaikan naskah pidato dengan kaidah-kaidah Bahasa Arab yang baik dan benar serta ia harus bisa menirukan pronunciation native speaker dan gaya berpidato yang persis dengan penutur aslinya. Hamim mengangkat masalah Culture Knowledge pada Generasi Muda Berbasis Aplikasi Tiktok atau Edukasi Budaya Berbasis Tiktok. Menurut Hamim, ia tertarik mengangkat masalah Edukasi Budaya atau Culture Knowledge berbasis TikTok karena merupakan terobosan baru untuk memperkenalkan kembali budaya lokal di Indonesia kepada masyarakat, khususnya generasi muda yang sepertinya telah melupakan dan mengabaikan budaya-budaya lokal negeri ini. Alasan Hamim lainnya yakni karena pengguna TikTok yang begitu besar di Indonesia. Dengan pemanfaatan kecanggihan teknologi sekarang ini, sangat tepat dirasa sebagai alat untuk sosialisasi atau kampanye tentang hal ini, tuturnya. Namun, berhasil atau tidaknya cara ini sangat bergantung kepada keaktifan dan kekreatifan penyuluh untuk membuat konten yang menarik kepada penggunanya. Semakin menarik konten yang dibuat, semakin besar pengaruh yang diberikan kepada netizen, maka semakin besar pula kesuksesan berjalannya edukasi ini. Konten yang dimaksud yakni video mengenai keragaman kultur budaya lokal yang dikombinasikan dengan kegemaran generasi muda di zaman ini. Generasi muda diharapkan dapat memperkaya pengetahuannya tentang kebudayaan lokal tanpa menghilangkan sisi kekinian generasi muda. Generasi muda tidak harus membaca berita di koran dan mendengar ceramah budaya yang sifatnya jadul atau old. Hamim mengurai jika fenomena yang terjadi saat ini menunjukkan bahwa generasi muda mengalami penurunan minat terhadap kebudayaan lokal dan lebih mengenal kebudayaan luar negeri. Jika kondisi ini tidak segera diatasi maka bangsa ini akan kehilangan jati diri atau orientasinya sebagai sebuah bangsa. Oleh karena itu, Culture Knowledge penting untuk dilakukan saat ini untuk mengembalikan semangat generasi muda mengenal budayanya sendiri. Apa yang diceritakan oleh Hamim sesungguhnya ingin menyadarkan generasi muda Indonesia agar jangan terlalu fokus dengan budaya orang lain, sehingga budaya sendiri menjadi luntur. Boleh saja senang dan mempelajari budaya-budaya lain. Asal tidak mengacuhkan budaya sendiri serta bermanfaat bagi dirinya dan orang lain, sehingga bisa menambah semangat dan khazanah keilmuan bagi mereka. Ini bermakna bahwa paling tidak ada keseimbangan pengetahuan generasi muda antara mengenal budaya sendiri dengan budaya orang lain. Edukasi budaya atau Culture Knowledge berbasis TikTok merupakan strategi yang efektif dan efisien dalam memberikan edukasi tentang budaya dengan metode kekinian. Aplikasi TikTok juga tidak memandang strata sosial sehingga lebih mudah untuk menjangkau masyarakat luas. Artinya aplikasi Tiktok bisa dilakukan oleh siapa saja, dimana saja dengan sekali klik. Aplikasi ini mudah, murah, dan tentu meriah. Demikian pula dengan Toni, ia mengingatkan generasi muda Islam agar jangan sampai terlena dengan bujuk rayu Dunia Barat. Salah satu caranya yakni dengan tetap mengingat dan beribadah kepada Allah. Rajin beribadah akan membantu kita keluar dari kesulitan, tuturnya. Congrats Hamim dan Toni, teruslah berkarya sampai kalian berada di puncak tertinggi. Teruslah menebar manfaat bagi orang lain, sehingga kalian akan selalu dikenang dalam kebaikan. Yang muda yang Berkarya, yang Muda yang Berjaya. Yang Muda yang Bahagia dan Milenia. [Siti Rahmi- Humas M2M]. INFO TENTANG MAN 2 MATARAM JUGA BISA DILIHAT DI: IG:Humas MAN 2 Mataram FB:Humas MAN 2 Mataram YT:Humas MAN 2 Mataram Website: www.manduamataram.sch.id Email: humasman2mataram@gmail.com

share:

Tinggalkan Komentar Anda